Apakah Memiliki Aura "Maghrib" adalah hal yang buruk?
Akhir-akhir ini kita seringkali mendengar atau melihat orang yang berkomentar di akun orang lain khususnya influencer dengan kata-kata seperti "maghrib" yang bermakna orang yang dikomentari itu memiliki kulit yang berwarna gelap dan dengan tujuan untuk mengkonotasikan bahwa itu adalah imperfection.
Bagi sebagian orang, mungkin akan berpengaruh kepada mental jika terus dilontarkan "bully-an" seperti itu. Sekuat apapun mental dan kepercayaan seseorang, mengingat kepercayaan diri itu fluktuatif (kadang naik, kadang turun), tentu saja hal ini akan berpengaruh terhadap seseorang. Apalagi dengan komentar yang menjamur dan menjadi trend cyberbullying seperti akhir-akhir ini yang terjadi di Indonesia.
Tapi apakah benar mempunyai kulit gelap yang dianggap maghrib ini adalah sesuatu yang buruk? jika iya, mengapa kita tidak diciptakan serupa, putih semua? mari kita lihat beberapa perspektif berikut.
1. Dalam Segi Islam
Allah berfirman dalam surah Al-Hujurat:13 bahwa Allah menciptakan manusia bersuku-suku berbangsa-bangsa agar mereka saling mengenal.
Terus kalau udah mengenal, kenapa? Harapannya sebagai manusia yang memiliki akal akan dapat memahami dan menghormati perbedaan. Bukan malah mengagungkan yang satu dan menghina yang lain.
Bukankah pelangi indah karena warnanya yang beragam? Allah itu Al-musawwir, apa yang menurut mata kita buruk, belum tentu buruk di hadapan Allah. Mudah saja bagi Allah untuk menciptakan kita tanpa perbedaan, tapi mengapa Allah menciptakan kita berbeda-berbeda? Allah ingin memperlihatkan kebesaran-Nya. Coba deh untuk melihat seseorang dari sisi indahnya, mungkin kamu akan bingung ketika ditanya siapa yang jelek menurutmu.
2. Dalam Segi Keberagaman
Bayangin kalau seluruh dunia ini hanya 1 suku? Kita mungkin tidak akan bisa menonton acara Spotlight dengan judul "7 Standar kecantikan yang ekstrim oleh beberapa suku di Dunia". Tidak ada ciri khas di setiap tempat, pergi berlibur ke tempat lain akan terasa sama saja. Karena tidak ada ke perbedaan pada bangunan, bahasa, kaligrafi, sejarah dan lainnya.
Hidup kita akan menjadi sangat boring tanpa adanya perbedaan.
3. Dalam Segi Estetika
Bayangkan kalau semua orang putih, maka putih tidak akan menjadi spesial lagi bagi sebagian orang. Kamu suka kulit putih karena kamu memiliki preferensi warna lain. Kalau tidak ada kulit berwarna coklat, kuning langsat, hitam dan beragam tone lainnya, kamu mau tidak mau harus menyukai kulit putih saja, karena tidak ada preferensi. Kamu mungkin akan penasaran dan akan bereksperimen membuat warna kulit yang baru.
Semua warna memiliki estetika tersendiri dan pencintanya tersendiri. Orang yang menyukai kulit putih belum tentu rasis. Orang yang menyukai kulit hitam belum tentu penuh toleransi. Tapi seseorang menyukai warna tertentu, tentu saja karena alasan tertentu juga. Bisa jadi ia menyadari keindahan yang ada dan sangat diharapkan itu karena keinginannya sendiri bukan karena tekanan dari society.
4. Dalam Segi Mindset
Being black is not an imperfection, a white has no superiority over a black nor a black has any superiority over a white. Cintai warna kulit kamu sendiri, tanpa harus berjuang untuk merubah warna kulitmu seperti standar yang ada.
5. Berdasarkan Geografis
Orang yang tinggal di daerah panas memiliki kulit yang cenderung gelap dibandingkan orang yang hidup di daerah dengan intensitas sinar UV yang lebih rendah. Hal ini terjadi karena sebagai taktik untuk bertahan hidup. Kulit yang gelap tidak mudah menyerap sinar UV yang mengakibatkan ia lebih terhindar dari penyakit kanker dan kerusakan yang diakibatkan oleh sinar UV. Contohnya, ketika kita berjemur sekitar satu jam di bawah matahari akan mengakibatkan berkurangnya kadar asam folat yang ada, namun kulit gelap memiliki penangkal untuk hal tersebut karena kadar melanin-nya. Mengingat asam folat sangat penting untuk wanita terutama saat hamil yang tentu akan berakibat fatal pada kehamilan jika kekurangan asam folat. Namun, kulit gelap lebih sulit menyerap vitamin D yang berasal dari cahaya matahari dibandingkan kulit terang. Orang yang memiliki kulit terang cenderung lebih mudah menyerap vitamin D tetapi juga tidak sekuat kulit gelap dalam menangkal kerusakan yang diakibatkan oleh sinar UV karena perbedaan jumlah melanin. Jadi, perbedaan warna kulit juga terjadi karena sebagai bentuk pertahanan tubuh terhadap tempat tinggalnya. Tentu saja dengan kemajuan zaman, kita akan lebih bisa hidup di daerah yang kurang ideal bagi beberapa jenis kulit dengan bantuan vitamin.
Warna kulit itu unik dan merupakan organ terbesar yang ada pada manusia. Selama kamu merawat dan menjaganya dengan semaksimal mungkin, itu adalah warna yang terbaik. Tidak perlu mati-matian mengejar warna kulit yang ditekankan oleh masyarakat, karena kamu cantik dengan warna kulitmu begitu pula fungsinya yang sudah di desain sebaik-baiknya oleh Sang Pencipta.
Look around you, bukan hanyamelihat sosial media yang terus digempur oleh industri kecantikan yang selalu membuat kamu merasa kurang. Kamu akan terpengaruh oleh apa yang kamu terima selama ini, oleh karena itu kamu yang harus menjadi pengemudi untuk dirimu dari banyaknya informasi, karena kalau tidak, kamu hanya akan diarahkan sesuai apa yang media inginkan.
Jadi bagaimana menurutmu? apakah memiliki aura "maghrib" adalah hal yang buruk? ataukah pemikiran seperti itu yang buruk?...
References:
https://www.amaliah.com/post/21846/is-being-white-better-than-being-black-a-long-perpetuation-of-a-backward-ideology
https://islam.nu.or.id/hikmah/ketika-anak-bertanya-mengapa-allah-menciptakan-manusia-berbeda-beda-
https://rahma-id.cdn.ampproject.org/v/s/rahma.id/mengapa-allah-menciptakan-manusia-berbeda-beda/?
https://sensing.konicaminolta.us/us/blog/how-human-skin-color-evolved-across-different-regions/
https://www.rspondokindah.co.id/id/news/kekuatan-hebat-vitamin-d-untuk-kesehatan-tubuh
Komentar
Posting Komentar