Mumet terus? Padahal Ga Ada Masalah? Mungkin Ini Penyebabnya
Kalau kamu merasa stres, ga tau mau ngapain, ga tau penyebabnya tapi rasanya serba salah, serba ga jadi, ga ada yang selesai, bisa jadi masalahnya karena ini….
Beberapa waktu lalu terdapat kontroversi akibat informasi
yang diberikan oleh Microsoft. Lah emang isi informasinya apa?
Microsoft bilang kalau attention span (daya fokus) manusia itu saat ini
lebih rendah di banding ikan mas. Mereka bilang kalau attention span nya
manusia sekarang tuh cuma 8 detik, sedangkan ikan mas aja 12 detik [1].
(note: informasi mengenai data ini masih diperdebatkan)
Sedangkan berdasarkan CNN Health, rata-rata attention
span pada screen adalah 2
Wow, agak kaget ya?
Tapi, hubungannya sama perasaan kamu tadi itu apa?
Sebelum kamu membahas lebih lanjut aku pengen tanya ke kamu, dan jawab kepada dirimu sendiri.
- Berapa lama screen time kamu? (normalnya ≤ 2 jam/hari untuk hiburan/ diluar kerja atau belajar)
- Apakah waktu itu kamu gunakan untuk dummy scrolling (scroll untuk kesenangan aja tanpa tujuan)?
- Kamu ngerasa sering bingung mau ngapain padahal banyak yang harus dilakukan?
- Kamu ngerasa sulit untuk menyelesaikan sesuatu, karena belum selesai pekerjaan 1, kamu udah merasa harus lanjut ke pekerjaan 2,3,4 dan seterusnya?
- Apakah akhir-akhir ini kamu merasa stres tapi ga tau penyebabnya apa, rasanya otak kamu mumet aja?
Kalau mostly
jawabannya iya, bisa jadi stres yang kamu peroleh itu akibat dari kebanyakan
interaksi dengan sosial media. Ha? Gimana? Kok bisa?
“kan aku ga
ada iri sama orang lain, seneng aja liat pencapaian orang lain, jadinya ga ada
dong pengaruh ke mental aku?”
Seharusnya
gitu. Tapi ternyata dummy scrolling dengan fitur infinite scrolling
(scrolling ga terbatas), real time notifications dan algoritma sengaja
dibuat agar kamu terus menggunakan platform tersebut dan membuat kamu ingin
mengetahui segala informasi dalam satu waktu. Hal ini dapat menyebabkan
peningkatan dopamin pada otak yang membuat orang-orang keep switching
between apps [3].
“Lah
masalahnya apa? Kan scrolling dapet informasi, belajar hal baru, kadang juga
terhibur lucu-lucuan, aku masih belum nemu masalahnya, I think it is kind a normal
thing”
Nah, ini yang harus kamu pahami.
Ketika kamu
merasa bahagia, maka otak kamu akan melepaskan zat yang bernama dopamin.
Senyawa tersebut dikenal sebagai “reward molecule” karena berperan
penting dalam sistem penghargaan dan kesenangan di otak. Aktivitasnya sangat
penting karena berkaitan dengan motivasi, cara kamu belajar dari hadiah atau
pengalaman positif, dan bagaimana kamu merasakan emosi ketika mendapat sesuatu
yang menyenangkan [4].
Ada kesenangan
cepat atau biasanya disebut short-term reward, dopamin-nya cepat naik
tapi juga cepat hilang, makanya buat kamu pengen lagi dan lagi. Adapula
kesenangan jangka panjang atau long-term reward, dopamin-nya akan naik
bertahap, tapi akan memberikan kamu manfaat kesehatan, mental, disiplin dan
masa depan. Contoh short-term reward, pas kamu scroll HP dan kamu
liat konten lucu, kamu akan mudah ketawa, tapi senengnya sementara banget, kamu
lanjut ke video bawahnya yang mungkin sedih, kamu juga akan cepat menjadi sedih,
intinya itu ga memberi kamu kesenangan dalam jangka panjang. Sedangkan contoh
dari long-term reward, misalnya saat kamu olahraga hari pertama, kamu ga
langsung merasa “mau lagi”, tapi jika kamu sering melakukannya, maka kamu akan
merasa “ketagihan”. Adapun efek dari olahraga itu berkepanjangan dan baik untuk
tubuh kamu, sedangkan scrolling efeknya hanya bahagia saat itu dan
mungkin akan kamu lupakan karena tertimpa dengan informasi lainnya.
Kadar dopamin
yang terlalu tinggi bisa bikin kamu merasa euforia, tapi kalau ini terjadi
terus-menerus, otak lama-lama jadi kebal. Kamu butuh rangsangan yang lebih
besar untuk merasa senang, inilah mekanisme yang mirip dengan kecanduan.
Sebaliknya, kalau dopamin terlalu rendah, kamu bisa kehilangan motivasi, susah
menikmati hal-hal yang biasanya menyenangkan, bahkan bisa muncul gejala mirip
depresi [5].
Sebagai contoh, ketika kamu liat hal lucu sekali, maka itu akan lucu, tapi
kalau udah berkali-kali, udah biasa aja, kamu butuh hal baru yang lebih lucu
supaya kamu bisa ketawa.
Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa screen time yang berlebihan bisa mengubah kimia
otak, terutama pada zat-zat yang mengatur perasaan senang, stres, dan
keseimbangan emosi, seperti dopamin, serotonin, dan kortisol [6,5].
Bukan cuma dopamin, sosmed berlebihan
juga mengganggu serotonin. Penelitian menunjukkan adanya kemungkinan hubungan pengalaman
seperti perundungan online, membandingkan diri dengan orang lain, atau rasa
takut tertinggal (FoMO) bisa membuat serotonin menurun, sehingga suasana hati
lebih mudah turun, kamu jadi impulsif, dan emosi lebih sulit dikontrol dan semuanya
berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi dan kecemasan.
Selain itu, penggunaan sosmed
terus-menerus juga bisa melemahkan hormon oksitosin, yaitu hormon yang membuat kamu
merasa dekat, percaya, dan terhubung dengan orang lain. Biasanya hormon ini
keluar lewat interaksi langsung seperti ngobrol tatap muka, pelukan, atau
aktivitas bersama, sedangkan interaksi digital tidak memberikan respons hormon
yang sama. Akibatnya, meskipun terlihat ‘terhubung’ secara online, kamu bisa
merasa semakin kesepian dan jauh secara emosional [7].
Semua perubahan pada dopamin,
serotonin, dan oksitosin ini akhirnya balik lagi ke apa yang kamu rasakan
sehari-hari seperti rasa stres, gampang cemas, sulit fokus, dan perasaan campur
aduk yang kamu sendiri ga tahu penyebabnya. Ketika otak terus dibanjiri
rangsangan cepat dari sosmed, sistem penghargaan jadi ‘kecapekan’, suasana hati
jadi ga stabil, dan kemampuan otak untuk mempertahankan perhatian (attention
span) ikut menurun. Dampaknya, kamu jadi mudah terdistraksi, susah
menyelesaikan satu tugas sampai tuntas, sering pindah-pindah dari satu hal ke
hal lain, dan merasa otak terus penuh tapi ga ada yang benar-benar selesai.
Inilah yang membuat kamu merasa bingung, tidak produktif, overwhelmed,
dan akhirnya stres.
Kalau
kamu terlalu sering main sosmed, dampaknya bukan cuma soal stres, tapi juga
cara otak kamu bekerja dan cara kamu melihat diri sendiri. Sosmed membuat otak
ketagihan kesenangan instan, akibatnya otak kamu jadi susah menikmati
hal-hal yang butuh fokus atau usaha. Padahal kenyataannya dalam hidup ini
memerlukan usaha & proses yang tidak instan.
Selain
itu, engaging di sosmed sebenarnya menyentuh tiga aspek penting dalam
diri kamu: kognitif (daya pikir), emosi, dan kebiasaan. Jadi wajar kalau
efeknya luas. Anak muda bahkan lebih rentan, kalau dibiarkan, ini bisa bikin
belajar jadi makin susah, fokus gampang buyar, dan tugas terasa berat.
Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan sosmed berlebihan bisa menurunkan self-control
dan kemampuan otak dalam mempertahankan fokus untuk waktu yang panjang.
Akibatnya kamu gampang kewalahan, kebanjiran informasi, dan akhirnya rentang
fokus makin pendek.
Padahal
kemampuan untuk fokus dalam waktu tertentu baik di sekolah maupun pekerjaan adalah
penting banget supaya kamu bisa berpikir dengan lebih jernih, memahami
pelajaran, mengingat hal-hal penting, dan menyelesaikan masalah dengan lebih
baik.
Makanya
penting buat ngambil langkah pencegahan. Coba batasi waktu main sosmed, kasih
otak jeda biar ga terus overstimulated. Latih fokus dengan melakukan
aktivitas tanpa distraksi minimal 20–30 menit, misalnya belajar atau baca.
Jangan lupa juga untuk lebih sering berinteraksi langsung dengan orang-orang,
karena itu bantu naikin serotonin dan oksitosin secara alami.
Kalau
ga dijaga, risiko stres, kecemasan, turunnya kemampuan belajar, dan rendahnya
produktivitas bisa makin besar. Padahal kemampuan buat fokus dalam waktu
tertentu itu penting banget buat belajar lebih efektif, kuatin memori, dan
bikin hidup lebih tenang.
Referensi:
1. https://www.wcnc.com/article/news/local/doctor-tips-redeem-dwindling-attention-spans
2. https://edition.cnn.com/2024/08/11/health/how-to-increase-attention-span-wellness
3. https://policyjssr.com/index.php/PJSSR/article/view/363/354
4. Berridge
KC, Kringelbach ML. Pleasure systems in the brain. Neuron. 2015; 86(3):
646–664..
5. Volkow
ND, Wang GJ, Tomasi D, et al. The addictive dimensionality of obesity.
Biological Psychiatry. 2011; 73(9): 811–818.
6. Keles
B, McCrae N, Grealish A. A systematic review: The influence of social media on
depression, anxiety and psychological distress in adolescents. International
Journal of Adolescence and Youth. 2020; 25(1): 79–93.
7. Kazmi
SM, Jilani AQ, Ahmad S, Srivastava P, Pandey K, Anwar S. Effects of Excessive
Social Media Use on Neurotransmitter Levels and Mental Health: A
Neurobiological Meta-Analysis. Era J Med Res 2025;12(1):56–60
Komentar
Posting Komentar