Mumet terus? Padahal Ga Ada Masalah? Mungkin Ini Penyebabnya

    Kalau kamu merasa stres, ga tau mau ngapain, ga tau penyebabnya tapi rasanya serba salah, serba ga jadi, ga ada yang selesai, bisa jadi masalahnya karena ini….

    Beberapa waktu lalu terdapat kontroversi akibat informasi yang diberikan oleh Microsoft. Lah emang isi informasinya apa?

    Microsoft bilang kalau attention span (daya fokus) manusia itu saat ini lebih rendah di banding ikan mas. Mereka bilang kalau attention span nya manusia sekarang tuh cuma 8 detik, sedangkan ikan mas aja 12 detik [1]. (note: informasi mengenai data ini masih diperdebatkan)

    Sedangkan berdasarkan CNN Health, rata-rata attention span pada screen adalah 2  menit pada tahun 2004 dan turun menjadi 47 detik pada tahun 2021 [2].

Wow, agak kaget ya?

Tapi, hubungannya sama perasaan kamu tadi itu apa?

Sebelum kamu membahas lebih lanjut aku pengen tanya ke kamu, dan jawab kepada dirimu sendiri.

  1. Berapa lama screen time kamu? (normalnya 2 jam/hari untuk hiburan/ diluar kerja atau belajar)
  2. Apakah waktu itu kamu gunakan untuk dummy scrolling (scroll untuk kesenangan aja tanpa tujuan)?
  3. Kamu ngerasa sering bingung mau ngapain padahal banyak yang harus dilakukan?
  4. Kamu ngerasa sulit untuk menyelesaikan sesuatu, karena belum selesai pekerjaan 1, kamu udah merasa harus lanjut ke pekerjaan 2,3,4 dan seterusnya?
  5.  Apakah akhir-akhir ini kamu merasa stres tapi ga tau penyebabnya apa, rasanya otak kamu mumet aja?

Kalau mostly jawabannya iya, bisa jadi stres yang kamu peroleh itu akibat dari kebanyakan interaksi dengan sosial media. Ha? Gimana? Kok bisa?

“kan aku ga ada iri sama orang lain, seneng aja liat pencapaian orang lain, jadinya ga ada dong pengaruh ke mental aku?”

Seharusnya gitu. Tapi ternyata dummy scrolling dengan fitur infinite scrolling (scrolling ga terbatas), real time notifications dan algoritma sengaja dibuat agar kamu terus menggunakan platform tersebut dan membuat kamu ingin mengetahui segala informasi dalam satu waktu. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan dopamin pada otak yang membuat orang-orang keep switching between apps [3].

“Lah masalahnya apa? Kan scrolling dapet informasi, belajar hal baru, kadang juga terhibur lucu-lucuan, aku masih belum nemu masalahnya, I think it is kind a normal thing”

Nah, ini yang harus kamu pahami.

Ketika kamu merasa bahagia, maka otak kamu akan melepaskan zat yang bernama dopamin. Senyawa tersebut dikenal sebagai “reward molecule” karena berperan penting dalam sistem penghargaan dan kesenangan di otak. Aktivitasnya sangat penting karena berkaitan dengan motivasi, cara kamu belajar dari hadiah atau pengalaman positif, dan bagaimana kamu merasakan emosi ketika mendapat sesuatu yang menyenangkan [4].

Ada kesenangan cepat atau biasanya disebut short-term reward, dopamin-nya cepat naik tapi juga cepat hilang, makanya buat kamu pengen lagi dan lagi. Adapula kesenangan jangka panjang atau long-term reward, dopamin-nya akan naik bertahap, tapi akan memberikan kamu manfaat kesehatan, mental, disiplin dan masa depan. Contoh short-term reward, pas kamu scroll HP dan kamu liat konten lucu, kamu akan mudah ketawa, tapi senengnya sementara banget, kamu lanjut ke video bawahnya yang mungkin sedih, kamu juga akan cepat menjadi sedih, intinya itu ga memberi kamu kesenangan dalam jangka panjang. Sedangkan contoh dari long-term reward, misalnya saat kamu olahraga hari pertama, kamu ga langsung merasa “mau lagi”, tapi jika kamu sering melakukannya, maka kamu akan merasa “ketagihan”. Adapun efek dari olahraga itu berkepanjangan dan baik untuk tubuh kamu, sedangkan scrolling efeknya hanya bahagia saat itu dan mungkin akan kamu lupakan karena tertimpa dengan informasi lainnya.

Kadar dopamin yang terlalu tinggi bisa bikin kamu merasa euforia, tapi kalau ini terjadi terus-menerus, otak lama-lama jadi kebal. Kamu butuh rangsangan yang lebih besar untuk merasa senang, inilah mekanisme yang mirip dengan kecanduan. Sebaliknya, kalau dopamin terlalu rendah, kamu bisa kehilangan motivasi, susah menikmati hal-hal yang biasanya menyenangkan, bahkan bisa muncul gejala mirip depresi [5]. Sebagai contoh, ketika kamu liat hal lucu sekali, maka itu akan lucu, tapi kalau udah berkali-kali, udah biasa aja, kamu butuh hal baru yang lebih lucu supaya kamu bisa ketawa.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa screen time yang berlebihan bisa mengubah kimia otak, terutama pada zat-zat yang mengatur perasaan senang, stres, dan keseimbangan emosi, seperti dopamin, serotonin, dan kortisol [6,5].

Bukan cuma dopamin, sosmed berlebihan juga mengganggu serotonin. Penelitian menunjukkan adanya kemungkinan hubungan pengalaman seperti perundungan online, membandingkan diri dengan orang lain, atau rasa takut tertinggal (FoMO) bisa membuat serotonin menurun, sehingga suasana hati lebih mudah turun, kamu jadi impulsif, dan emosi lebih sulit dikontrol dan semuanya berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi dan kecemasan.

Selain itu, penggunaan sosmed terus-menerus juga bisa melemahkan hormon oksitosin, yaitu hormon yang membuat kamu merasa dekat, percaya, dan terhubung dengan orang lain. Biasanya hormon ini keluar lewat interaksi langsung seperti ngobrol tatap muka, pelukan, atau aktivitas bersama, sedangkan interaksi digital tidak memberikan respons hormon yang sama. Akibatnya, meskipun terlihat ‘terhubung’ secara online, kamu bisa merasa semakin kesepian dan jauh secara emosional [7].

Semua perubahan pada dopamin, serotonin, dan oksitosin ini akhirnya balik lagi ke apa yang kamu rasakan sehari-hari seperti rasa stres, gampang cemas, sulit fokus, dan perasaan campur aduk yang kamu sendiri ga tahu penyebabnya. Ketika otak terus dibanjiri rangsangan cepat dari sosmed, sistem penghargaan jadi ‘kecapekan’, suasana hati jadi ga stabil, dan kemampuan otak untuk mempertahankan perhatian (attention span) ikut menurun. Dampaknya, kamu jadi mudah terdistraksi, susah menyelesaikan satu tugas sampai tuntas, sering pindah-pindah dari satu hal ke hal lain, dan merasa otak terus penuh tapi ga ada yang benar-benar selesai. Inilah yang membuat kamu merasa bingung, tidak produktif, overwhelmed, dan akhirnya stres.

Kalau kamu terlalu sering main sosmed, dampaknya bukan cuma soal stres, tapi juga cara otak kamu bekerja dan cara kamu melihat diri sendiri. Sosmed membuat otak ketagihan kesenangan instan, akibatnya otak kamu jadi susah menikmati hal-hal yang butuh fokus atau usaha. Padahal kenyataannya dalam hidup ini memerlukan usaha & proses yang tidak instan.

Selain itu, engaging di sosmed sebenarnya menyentuh tiga aspek penting dalam diri kamu: kognitif (daya pikir), emosi, dan kebiasaan. Jadi wajar kalau efeknya luas. Anak muda bahkan lebih rentan, kalau dibiarkan, ini bisa bikin belajar jadi makin susah, fokus gampang buyar, dan tugas terasa berat. Penelitian juga menunjukkan bahwa penggunaan sosmed berlebihan bisa menurunkan self-control dan kemampuan otak dalam mempertahankan fokus untuk waktu yang panjang. Akibatnya kamu gampang kewalahan, kebanjiran informasi, dan akhirnya rentang fokus makin pendek.

Padahal kemampuan untuk fokus dalam waktu tertentu baik di sekolah maupun pekerjaan adalah penting banget supaya kamu bisa berpikir dengan lebih jernih, memahami pelajaran, mengingat hal-hal penting, dan menyelesaikan masalah dengan lebih baik.

Makanya penting buat ngambil langkah pencegahan. Coba batasi waktu main sosmed, kasih otak jeda biar ga terus overstimulated. Latih fokus dengan melakukan aktivitas tanpa distraksi minimal 20–30 menit, misalnya belajar atau baca. Jangan lupa juga untuk lebih sering berinteraksi langsung dengan orang-orang, karena itu bantu naikin serotonin dan oksitosin secara alami.

Kalau ga dijaga, risiko stres, kecemasan, turunnya kemampuan belajar, dan rendahnya produktivitas bisa makin besar. Padahal kemampuan buat fokus dalam waktu tertentu itu penting banget buat belajar lebih efektif, kuatin memori, dan bikin hidup lebih tenang.

 

Referensi:
1. https://www.wcnc.com/article/news/local/doctor-tips-redeem-dwindling-attention-spans

2. https://edition.cnn.com/2024/08/11/health/how-to-increase-attention-span-wellness

3. https://policyjssr.com/index.php/PJSSR/article/view/363/354

4. Berridge KC, Kringelbach ML. Pleasure systems in the brain. Neuron. 2015; 86(3): 646–664..

5. Volkow ND, Wang GJ, Tomasi D, et al. The addictive dimensionality of obesity. Biological Psychiatry. 2011; 73(9): 811–818.

6. Keles B, McCrae N, Grealish A. A systematic review: The influence of social media on depression, anxiety and psychological distress in adolescents. International Journal of Adolescence and Youth. 2020; 25(1): 79–93.

7. Kazmi SM, Jilani AQ, Ahmad S, Srivastava P, Pandey K, Anwar S. Effects of Excessive Social Media Use on Neurotransmitter Levels and Mental Health: A Neurobiological Meta-Analysis. Era J Med Res 2025;12(1):56–60

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Memiliki Pilihan Adalah Privilage

Percaya Diri untuk Dirimu Sendiri