Penyakit Manusia yang Tak Masuk Akal

Penyakit Manusia yang Tak Masuk Akal

    Salah satu penyakit manusia yang tak masuk akal adalah mengira dan membuat ekspektasi berdasarkan sosial media. Saat ia melihat orang kaya di sosmed dia akan berpikir bahwa orang tersebut sangat bahagia karena kaya. Saat melihat orang yang alim di sosmed dia akan berpikir bahwa orang tersebut tak melakukan dosa karena tau agama. Saat melihat artis yang bolak balik sana sini berarti hidupnya bahagia. Saat melihat selebgram ia berpikir hidupnya sangat mudah untuk mencari uang, berarti dia beruntung dan bahagia.

    Come on, kalau orangnya kaya bisa jadi ujiannya tentang kesehatan. Kalau orangnya sehat bisa jadi ujiannya tentang keuangan. Kalau orangnya alim bisa jadi ujiannya tentang anaknya. Hidup itu adalah perjuangan. Semua orang sedang berjuang, tak ada yang lebih bahagia atau yang paling bahagia.

    Keluarga bahagia yang kamu lihat di sosial media itu bisa jadi setelah membuat video mereka bertengkar. Anak yang sangat anteng yang kamu liat di sosial media itu bisa jadi 1 jam sebelumnya dia sedang mengalami tantrum. Duit "orang kaya" yang kamu liat di sosial media itu bisa jadi uang pinjaman yang baru cair 5 menit sebelum dia membuat video.

    Secara umum, orang-orang akan memunculkan sisi baik dan positifnya di sosial media, begitu juga aku ataupun kamu. Jika kita membandingkan hidup kita dengan kehidupan yang ada di sosial media, tentu itu adalah langkah yang sangat salah. Dari katanya saja sudah tidak bisa dibandingkan. Sosial media sering disebut dengan dunia maya, maya sendiri menurut KBBI adalah khayalan yang hanya tampaknya ada, tetapi nyatanya tidak ada.

    Kalau kamu sudah mencampuradukkan, membandingkan dan tak dapat membedakan antara dunia maya dan dunia nyata maka sudah waktunya kamu untuk puasa dari sosial media terlebih dahulu. Misalnya kamu sudah merasa cemas berlebih karena melihat pencapaian orang lain, depresi, merasa takut kehilangan, bahkan hingga sulit untuk tidur.

    Ada kalimat yang ingin aku sorot saat mendengarkan ceramah ustadz Felix Siauw yang mengatakan bahwa Islam itu tidak menyuruh manusia untuk menjadi orang kaya atau miskin namun mengajarkan bagaimana cara kita untuk merespon berbagai keadaan dalam hidup.

    Aku ingin mengatakan ini, karena dalam menggunakan sosial media pun kita harus dapat menggunakannya dengan bijak, merespon dengan bijak, karena penelitian menunjukkan bahwa sosial media itu akan berdampak secara psikologis kepada orang-orang yang tidak memiliki kemampuan pengendalian diri yang baik.

Kemampun pengendalian diri itu semuanya dapat kita pelajari dalam Islam. Saat aku belajar hal baru entah itu mengenai self development, self improvement dan sejenisnya, aku sering tersadarkan bahwa hal seperti itu pernah aku pelajari bahkan saat SD misalnya pada mata pelajaran Akidah Akhlak. Sebagai contoh, dalam psikologi untuk menjadi pribadi yang dapat berpikir positif dan sehat secara mental salah satu cara yang harus kita terapkan adalah self-acceptance, yang dimana dalam islam disebut dengan qona'ah.

    Aku hanya ingin sedikit menyenggol bahwa terkadang kita tidak memiliki pengendalian diri yang baik, pemikiran yang salah, selalu merasa kurang dan selalu merasa kesulitan itu kadangkala karena kita masih kurang belajar dan seringkali memisahkan kegiatan sehari-hari dengan agama (sekuler) tanpa kita sadari.

   Ingatlah kebahagiaan itu kita yang menentukan. Selama ini mungkin merasa miskin tapi kok masih bisa ketawa? Merasa bodoh kok masih bisa menjalani hidup? Merasa berdosa kok masih diberi kesempatan? Jangan membatasi kehidupan dengan materi yang hanya dapat kamu pandang. Bersyukurlah.

    Beberapa saat kita terlalu sering memandang ke atas dan lupa untuk memandang ke bawah. Hingga akhirnya kita membuat berbagai macam asumsi yang sebenarnya itu tak menggambarkan diri kita sendiri.

    Jangan membuat penyakit sendiri dengan membandingkan diri dengan orang lain. Apalagi melalui sosial media. Fokus sama diri sendiri. Kalau mau bandingin harus apple to apple dong, tapi pertanyaannya emang bisa?

References:

https://etheses.uinsgd.ac.id/63618/

https://fkm.unair.ac.id/ramai-soal-puasa-media-sosial-seberapa-signifikan-dampaknya-terhadap-kesehatan-mental/

https://ejournal.uin-suka.ac.id/dakwah/hisbah/article/view/162-08

https://ejournal.upi.edu/index.php/Psikoeduko/article/view/45113

My Sincere Love

Intanbinthohir


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Memiliki Pilihan Adalah Privilage

Mumet terus? Padahal Ga Ada Masalah? Mungkin Ini Penyebabnya

Percaya Diri untuk Dirimu Sendiri