Mengapa Kita Merasa Rendah atau Lebih Baik?
Mengapa Kita Merasa Rendah atau Lebih Baik?
Seringkali hidup berjalan dengan rasa yang berat. Ketika kita mencoba untuk meletakkan ekspektasi kita, ternyata ekspektasi itu lebih sering tak sesuai kenyataan. Merasa kecewa. Mencoba untuk berhenti sejenak, namun tak disengaja melihat orang lain. Mereka tampak lebih mudah. Mereka tampak lebih bahagia. Dapat mengatur emosi, manage their time. Ya, Walaupun banyak sekali yang tak kita pandang dari mereka. Tapi disaat hati yang diporakporandakan oleh kenyataan, kita mudah tenggelam dalam melihat kebahagiaan orang lain.
Dalam hal ini kita akan menyadari bahwa ada yang kurang dalam diri ini. Rasa kekurangan ini dapat berupa insecure atau inferiority(rendah diri). Semua orang memilikinya. Aku. Kamu, dan mereka. Rasa ini ada disetiap orang, namun tak bisa bertahan lama, karena rasa ini begitu berat. Sehingga perlu bagi seseorang untuk "menindak-lanjuti" rasa rendah diri ini.
Cara yang paling sehat untuk mengisi atau mengkompensasi bagian yang kurang dari diri kita adalah dengan cara berkembang. Saat merasa diri ini banyak tidak tau, maka kita harus banyak belajar. Saat merasa kurang dalam finansial, maka sebaiknya kita berusaha. Tentu saja untuk mengisi kekurangan pada diri kita bukanlah suatu hal yang mudah. Sehingga tak sedikit orang yang mengkompensasinya menggunakan jalan yang berbeda. Yaitu dengan membuat statement, "Aku gak bisa sukses, karena edukasi ku rendah" atau "Aku gak bisa punya perusahaan, karena aku berasal dari keluarga miskin". Orang seperti ini akan membuat situasi jika tidak A, maka tidak bisa B. Rasa rendah diri ini begitu dalam, sehingga merasa aku bukanlah orang yang seberuntung kalian. Pada kasus ini sudah masuk menjadi inferiority complex.
Kita mungkin setuju bahwa semua orang memiliki latar belakang yang berbeda, pengalaman yang berbeda dan masa lalu yang berbeda. Namun, jika semua dari kita ditentukan oleh masa lalu untuk apa kita bertahan dan berjuang hingga sejauh ini. Aturan yang membuat "Jika situasinya tidak A, maka aku tidak bisa mencapai B" itu adalah buatan manusia sendiri, khususnya manusia yang memiliki rasa rendah diri yang begitu besar, manusia yang tak dapat mengatasi hal ini dengan jalan yang lebih baik.
Tentu saja, kekayaan seseorang sangat mempengaruhi. Kepintaran, kegigihan, keberanian, orang tua yang berkuasa, akses kota yang sangat mudah... Ya, semua itu memiliki peran yang penting dan itu adalah privilege bagi mereka. Tapi apakah mereka tak memiliki kesulitan yang mereka lawan saat ini? Pasti punya. Tak seorang pun di dunia ini hidup tanpa sedikitpun rintangan. Jika kamu merasa bahwa semua orang telah mengecapmu sebagai seorang yang gagal, bukankah akan lebih mudah untuk berusaha? kamu tidak akan diberatkan dengan harapan orang lain padamu. No excuse untuk apa yang sedang kita perjuangkan... Kamu bisa.
Namun ternyata rasa rendah diri yang tidak ditanggapi dengan jalan yang "sehat" ini dapat berkembang menjadi superiority complex. Yaitu orang yang seolah-olah dia itu superior, padahal tidak. Kalau pada tahap inferiority complex ia berpikir "Aku gak sukses, karena aku gak kuliah", orang yang terkena superiority complex akan membuat dirinya "superior" atau hebat dengan mengatakan, "aku gak sukses, karena aku gak kuliah. Coba aja aku kuliah, mungkin lebih baik dari kalian". Jadi orang ini memperlihatkan pada orang lain bahwa "aku ini sebenarnya hebat, ya tapi tau lah keadaan kaya gini, jadinya sulit".
Orang yang mengidap superiority complex juga akan membanggakan hubungannya dengan orang yang berkuasa seperti "gue ada backingan nih" atau memamerkan bahwa " gue keluarga sama selebgram A", "oh Artis itu? gue sering banget jalan sama mereka", dengan menunjukkan adanya hubungan dengan orang-orang yang memiliki harta lebih atau popularitas, ia akan merasa bahwa dirinya "spesial" dan seolah-olah superior. Sering ya mendengar orang seperti itu? atau ternyata itu adalah kita sendiri?...
Orang yang suka mengungkit masa bersinarnya di masa lalu, "dulu aku tuh hebat banget, cuma sekarang kaya udah malas aja", "dulu aku cantik banget, cuma sekarang gendutan dikit", hal ini mereka lakukan untuk mengisi kekurangan atau ketidakmampuan mereka dalam menghadapi rasa inferiority pada saat ini, tidak mau mengakui mengenai kekurangannya, sehingga akan berlagak seolah-olah "superior", seperti " asal lo tau ya, gue tuh dulu bisa menjual lebih dari 100+ produk A", namun kenyataannya sekarang tidak bisa.
Namun apakah mereka adalah orang yang buruk? tentu saja bukan. Menurut Adler "orang yang menyombongkan diri melakukannya hanya karena perasaan rendah diri". Mereka melakukan itu karena ada ketakutan "jika aku tak melakukan itu, tak ada seorangpun akan menerima aku apa adanya". Apakah itu menyedihkan? bagaimana menurutmu?
Mereka hidup berdasarkan penilaian seseorang, bukan berdasarkan dirinya sendiri...
Tulisan ini ditulis berdasarkan teori Alfred Adler dalam buku "The Courage To be Disliked"
I'm Waiting For Your Feedback
My Sincere Love
@intanbinthohir
Komentar
Posting Komentar