Memahami atau Dipahami?

 Memahami atau Dipahami?

Saat ini kamu sedang sedih banget ya? Sedang merasa terpojokkan? Sedang stuck? Gak ada teman cerita dan gak ada yang memahami. Sudah buat status yang menunjukkan bahwa aku tidak baik-baik saja, tapi mengapa tak ada yang peduli? Sudah silent treatment , sudah menghilang , segala cara telah dilakukan, "tapi mengapa ga ada yang berusaha untuk memahami diriku?".


Disclaimer : kalau kamu adalah orang yang mudah sakit hati, jangan lanjutkan membaca tulisan ini.

    Sebagai seorang manusia, kita mungkin perlu memahami bahwa semua orang memiliki kesibukan dan masalah masing-masing. Berhenti untuk terus berharap dan membuat orang lain memahami kita. Kita boleh menjelaskan situasi kita saat ini, namun apakah orang tersebut akan memahami atau tidak, itu bukan tugas kita, karena itu bukan hal yang dapat kita kontrol. Dunia yang kita lihat itu berbeda dengan dunia yang orang lain lihat, and it's impossible to share your world with anyone else. Sebaliknya kita pun tak akan pernah benar-benar memahami bagaimana keadaan orang lain.

    Apakah perlu bagi kita untuk dipahami? Tentu saja perlu. Namun oleh siapa? Jawabannya yang paling pertama dan utama adalah oleh diri kita sendiri. Kita harus memahami diri kita sendiri, kekurangan kita apa, kelebihan kita apa, maunya kemana, kemampuan kita apa, apa yang membuat kita marah, sedih, tertawa dan masih banyak lagi. Walaupun mengenali diri sendiri secara keseluruhan adalah hal yang sangat sulit dan mendekati kata tidak mungkin, namun sudah sejauh apa kita mengenal diri kita sendiri? Apakah selama ini kita tak memperhatikan diri sendiri, sehingga kita tak pernah paham dengan diri sendiri. Ketidakpahaman ini bisa saja menjalar untuk mencari perhatian dari orang lain.

    Sangat penting bagi seseorang untuk mengenali dirinya sendiri, sehingga akan mudah memahami dirinya terutama saat mengalami permasalahan. Ketika kita tak memahami diri kita sendiri, kita cenderung tidak bijaksana dalam bersikap, kita seperti orang yang tak tau arah dan berharap adanya pemahaman dan kompensasi dari orang lain. Namun hal ini dapat digunakan sebagai alasan oleh seseorang untuk terus berada di zona nyaman dan tidak melakukan apapun. Dalam buku “The Courage to be Disliked” menjelaskan sikap ini berasal dari inferiority (rendah diri) atau semacam insecure yang tak diatasi dengan jalan yang “sehat” sehingga menyebabkan seseorang mengidap superiority complex, seperti “Si Paling Berat Hidupnya” , “Si Paling Banyak Masalah”, “Si Paling Gak Ada yang Memahami”. Hal ini ia lakukan sebagai pelindung dirinya dari rasa inferiority yang gak bisa dikendalikan, sehingga berharap orang lain memahami keadaannya dan memberinya kompensasi, misalnya “Dia tuh sebenarnya pintar, cuman malas aja” atau “Yaudah kasian dia, masalahnya banyak, coba tugasin ke orang lain aja”. Istilahnya orang itu tuh udah begini, begitu dan lain-lain jadi mohon dipahami atau diberi kompensasi. Kalau keadaannya sudah seolah-olah paling berat, kan orang lain juga gak enak mau nyuruh atau berharap banyak, nah melalui cara ini orang tersebut merasa superior karena “keadaan susahnya” itu.


    Namun, katakanlah hingga detik ini kita sudah paham mengenai diri kita sendiri. Pertanyaannya apakah orang lain paham terhadap kita? Apakah penting bagi kita untuk membuat orang lain paham terhadap diri kita? ..


    Pada bagian ini mungkin jawabannya mengandung "kontroversial". Tentu, akan sangat menyenangkan bila ada seseorang yang memahami kita. Tapi bagaimana jika pada kenyataannya tak ada orang yang memahami kita? Apakah seharusnya kita membuat mereka paham terhadap kesedihan yang kita alami? Atau terhadap bagaimana keseharian kita? Jawabannya adalah tidak. Bukanlah hal yang penting untuk membuat seseorang paham terhadap situasi kita saat ini. "Bukankah akan baik, misalnya dalam kasus kita sedang bekerja dan tiba-tiba ada halangan yang kita dapatkan yang membuat kita tak dapat bekerja? Bukankah kita harus membuat rekan kerja kita memahami diri kita?".


    Menjelaskan suatu masalah yang kita alami adalah sah-sah saja. Namun setelah penjelasan tersebut, apakah orang lain akan memahami atau tidak sebenarnya bukan tugas kita, karena itu adalah hal yang tak bisa kita kendalikan.

Tak bisa dipungkiri memahami diri sendiri dan tidak ada orang yang memahami diri ini bukanlah hal yang mudah, terutama dalam situasi yang sulit. Berikut adalah beberapa cara untuk memahami diri sendiri :

1. Open minded yaitu dengan bersifat terbuka terhadap saran dan kritik dari orang lain, tidak bersifat defensif dan menerima apa adanya demi perkembangan diri sendiri.

2.Melakukan tes bakat dan kepribadian.

3.Menganalisis pengalaman sehari-hari.

4.Melakukan sosialisasi dengan orang lain

5.Melalui evaluasi, refleksi serta perenungan diri untuk mengetahui potret diri sendiri.

    Memahami orang lain bukan berarti kita berusaha hidup untuk memenuhi ekspektasi orang  dan membuat diri kita menjadi stress karena terpapar masalah orang lain. Sebaliknya memahami orang lain dapat membuat kita lebih tenang dalam menghadapi masalah, karena kita semakin sadar bahwa permasalahan yang ada ini bukan hanya kita yang mengalaminya. Rasa empati ini membuat mata kita terbuka lebih lebar bahwa diluar sana ada yang lebih sedih, lebih menyakitkan dan semua orang sedang berjuang. Rasa empati ini juga dapat meningkatkan hubungan kita dengan orang lain, mengurangi konflik dan memiliki komunikasi yang lebih baik Terkadang berusaha untuk terus dipahami adalah hal yang egois. Kita harus mampu berdiri di kaki sendiri, namun apakah jika suatu saat kita berharap ada yang mengerti diri kita adalah suatu hal yang salah? Tentu saja tidak, karena dukungan eksternal juga diperlukan oleh seorang individu. Walaupun begitu, seringkali kenyataan tidak berbanding lurus dengan harapan, sehingga perlu bagi kita memahami diri sendiri serta mengendalikan emosi yang ada, karena kebahagiaan seorang individu itu terletak pada dirinya sendiri bukan pada orang lain.



Jangan lupa untuk memberi feedback pada tulisan ini, semoga bermanfaat <3

My Sincere Love,

@intanbinthohir

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tak Memiliki Pilihan Adalah Privilage

Mumet terus? Padahal Ga Ada Masalah? Mungkin Ini Penyebabnya

Percaya Diri untuk Dirimu Sendiri