Kapan Aku Akan Sukses?
Kapan Aku Akan Sukses?
Dalam kehidupan kita yang serba cepat, terkadang kita cenderung menilai sesuatu dari sudut pandang yang tergesa-gesa, seperti melihat jam yang berdetak tanpa menghargai setiap detiknya. Kita tau bahwa dalam 1 hari ada 24 jam, dalam 1 jam ada 60 menit dan dalam 1 menit ada 60 detik. Jika kita disuruh untuk menunggu selama 1 jam daripada 60 menit, kita akan cenderung berpikir 1 jam itu lebih lama dibandingkan 60 menit. Begitulah dalam keseharian, kita lebih mudah menilai sesuatu yang dipikiran kita "besar" daripada sesuatu yang dipikiran kita "kecil" walaupun pada kenyataannya nilai tersebut adalah sama. Hal ini membuat kita sulit untuk menghargai hal-hal kecil yang sudah kita lalui maupun yang sudah kita capai.
Kita mungkin juga sempat lupa bahwa mie instan pun masih perlu dimasak, bubur instan pun masih perlu diberi air panas, begitu juga kehidupan yang kita jalani, tidak ada yang instan. Kita cenderung melihat suatu pencapaian yang besar, yang dimana besarnya pencapaian itu pun bergantung pada bagaimana reaksi orang lain. Kalau orang lain berpikir itu adalah kerja keras yang hebat, karya yang memukau maka kita merasa sukses dalam melakukan sesuatu dan membuat kita senang, terlebih lagi membuat kita sangat puas terhadap apa yang telah kita lakukan. Walaupun mungkin hal tersebut masih jauh dari perencanaan dan standar yang telah kita buat, kalau ternyata banyak orang lain yang menilainya indah dan hebat, maka itu sudah cukup.
Jika kita terus hidup seperti ini, maka kita sedang bertumpu atau menggantungkan kebahagian kita pada orang lain dan melupakan diri sendiri.
Berbicara tentang kesuksesan semua orang memiliki makna dan pengertian sukses masing-masing. Ada yang mengukur kesuksesan dalam bentuk materi, dalam bentuk penelitian, dalam bentuk pengentasan masalah dan lainnya. Pengukuran sukses itu juga memiliki waktu yang berbeda-beda, ada yang merencanakan sukses dalam jangka waktu pendek, menengah maupun panjang.
Bagi anak sekolah yang sedang mempelajari sulitnya fisika, ketika ia bisa mencapai target nilainya, mungkin saat itu ia sudah merasa sukses "mission success". Ada pula yang mendapatkan penghasilan 500 juta merasa belum sukses karena target sebenarnya adalah 2 M. Karena perbedaan target dan standar kita dalam kesuksesan, bukankah seharusnya kita tidak menggantungkan tingkat usaha kita terhadap penilaian orang lain? Jadi sebenarnya kapan "aku" akan sukses dan mengapa penting bagi seseorang untuk tidak memperdulikan penilaian orang lain terhadap kesuksesannya?
Penelitian yang dilakukan oleh Fadhlillah & Sakti (2015) menunjukkan bahwa semakin tinggi ketakutan seseorang terhadap kegagalan mengakibatkan rendahnya intensi berwirausaha. sebaliknya, semakin rendah ketakutan seseorang terhadap kegagalan mengakibatkan tingginya intensi berwirausaha. Seseorang yang berwirausaha belum tentu akan berhasil saat percobaan pertama, kedua, ketiga atau seterusnya. Namun dari kegagalan yang telah ia alami adalah pembelajaran yang sangat bermakna dan merupakan proses untuk mencapai kesuksesan itu. Hal ini juga berlaku pada bidang lainnya, bukan hanya pada berwirausaha. Semakin seseorang gagal, maka semakin banyak pelajaran yang dapat ia ambil, sehingga semakin besar pula kesuksesan tersebut.
Ada sebuah cerita yaitu seorang Ayah yang setiap hari bertanya ketika anaknya pulang dari sekolah mengenai kegagalan apa yang kamu dapatkan hari ini? ia tidak bertanya berapa banyak nilai A yang kamu dapatkan, tapi ia selalu bertanya kepada anaknya mengenai kegagalan. Hal ini ia lakukan untuk melatih mental anaknya dan menunjukkan bahwa kegagalan itu bukan serta merta hal yang buruk, tapi adalah pembelajaran yang begitu berharga.
Namun, sebagai manusia tentunya kita selalu mengharapkan kesuksesan daripada kegagalan. Menurut Wiliam A. Ward ada 6 kebiasaan orang yang gagal. Kebiasaan ini mungkin sangat melekat pada kita dan sebaiknya harus kita hindari.
------------
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/ijop.12906
https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/empati/article/download/14913/14428
https://digitalcommons.georgiasouthern.edu/cgi/viewcontent.cgi?article=1025&context=amtp-proceedings_2021
Good😊
BalasHapusmakasih anonim udah mampir :D
HapusKerennn
BalasHapusmakasih kak Lusi udah mampirrrr<3
Hapuswaaww mantap
BalasHapusmakasih kak Nisa udah mampir<3
Hapus