Gunakan Empati Untuk Mencapai Tujuanmu
Gunakan Empati Untuk Mencapai Tujuanmu
Ada seorang anak yang akan kita sebut dengan nama Dani. Dani berumur 6 tahun yang memelihara ayam dari kecil hingga tumbuh dewasa dan memiliki anak ayam lagi. Tiba-tiba saat Dani kembali pulang dari bermain, ia melihat induk ayamnya dimasak oleh ibunya. Ia menangis tersedu-sedu karena merasa sangat sedih. Saat ditanya mengapa, Dani mengatakan "Aku kasihan dengan anak ayamku, ia pasti merindukan ibunya". Mendengar hal tersebut ibunya berkata kepada Dani "Gapapa nak, ayam kan emang untuk dimakan". Mendengar jawaban itu Dani semakin sedih dan sangat marah kepada ibunya.
Berdasarkan cerita tersebut, Dani telah merasakan empati. Dani membayangkan bagaimana sedihnya ayamnya jika ia tau bahwa ibunya sudah tidak ada. Namun bagaimana seharusnya ibu Dani membuat ia mengerti?..
Jawabannya adalah melalui Empati. Apakah ibunya harus merasa sedih karena anak ayam sedangkan ibunya sangat paham bagaimana lazimnya ayam untuk dimakan. Apakah ibunya memaksakan diri untuk menangis? tentu saja tidak. Ibu Dani dapat berempati dengan emosi, namun ada cara empati lain yang dapat membuat Dani paham, yaitu melalui empati kognitif. Sejauh ini mungkin sebagian besar masyarakat mengetahui empati adalah bagaimana kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Namun ternyata empati sangat luas dan penting untuk dipelajari oleh seseorang untuk memahami orang lain atau memiliki tujuan tertentu.
Jika kamu memiliki seorang adik K-poppers. Kamu ingin memberinya sebuah nasihat atau pelajaran hidup bahwa "gini loh dek, hidup itu seberat ini". Jika kamu langsung memberinya nasihat seperti itu mungkin nasihatmu tidak akan didengarnya atau bahkan membuatnya kesal, karena kita bersikap mengajari dan membuatnya seolah-olah tidak tau apa-apa. Pendekatan yang harus kamu lakukan pertama-tama adalah berempati kepadanya. Jadi aku harus sedih karena dia menjadi K-poppers?
Nope!. Empati yang dimaksud adalah empati kognitif, yaitu memahami seseorang bukan hanya dari perspektif emosi yang mungkin selama ini kita lakukan, namun kita harus memahami bagaimana perspektif orang tersebut. Sebagai contoh, jika kamu seorang content creator dan ingin bernegosiasi dengan seorang pegusaha. Kamu harus memahami perspektif pengusaha tersebut, misalnya sebagai pengusaha tentu saja keuntungan yang ingin ia dapat dalam kerja sama adalah peningkatan penjualan. Sehingga kamu perlu menekankan bahwa "keuntungan yang akan bapak dapatkan penjualan bapak akan meningkat hingga 70%". Jika kamu hanya membanggakan jumlah followersmu dan video kamu yang estetik tentu saja dari sudut pandang seorang pengusaha itu tidak begitu menarik dan dia bisa menggunakan jasa pembuatan video.
Balik lagi ke adik kamu yang K-poppers. Sebagai seorang K-poppers mungkin saja adikmu berpikir bahwa yang selalu menemani aku adalah oppa-oppa, dia selalu menghiburku di kala sedih dan membuatku merasa tidak sendiri. Bisa jadi dalam perspektif dia bahwa yang lebih memahaminya adalah oppa-oppa Korea bukan kamu sebagai kakaknya, walaupun kenyataannya berbeda. Sehingga setelah kamu memahami perspektifnya kamu bisa menyampaikan pesan yang ingin kamu sampaikan, misalnya melihat video anggota Seventeen yang berlatih dari kecil sehingga bisa memiliki nama yang besar hingga sekarang. Kamu memperlihatkan padanya bahwa ia yang besar saat ini pernah berada di titik terendah dan terus berlatih. Hal itu mereka lakukan supaya mereka punya value dan pantas. Karena kalau kita tidak memiliki value, dunia ini terlalu keras.
Nah walaupun dengan cara yang mungkin dalam perspektifmu yang anti K-pop itu adalah hal yang aneh tapi yang penting pesannya sampaikan ke adikmu kan? dan ternyata lebih dapat diterima. Pada kenyataannya kita tidak dapat menolak hal-hal seperti itu. Bisa kita lihat saat ini ada beberapa da'i atau penceramah yang memiliki gaya yang gaul, kata-kata yang gaul, umur dan seleranya anak muda. Kenapa hal itu terjadi? karena targetnya anak-anak muda yang sebagian besar harus 'gaul men!'. Tentunya dengan pendekatan seperti ini akan lebih mudah untuk diterima oleh anak muda. Contohnya Habib Ja'far, Husein Basyaibain dan lain-lain.
Jadi sederhananya empati bukan hanya tentang emosi tapi juga memahami orang lain melalui perspektif. Setelah kamu memahami perspektif orang tersebut, ada hal yang perlu kamu lakukan untuk meningkatkan kepercayaan seseorang kepada kamu yaitu dengan cara mendengarkan seseorang dengan aktif, jangan langsung judge, akui perasaan mereka, hindari kata perintah dan berkomunikasi dengan jelas.
I'm waiting for your feedback!
My Sincer Love
Komentar
Posting Komentar