Berhenti Untuk Ikut Campur.
Berhenti Untuk Ikut Campur
Pernah gak kamu ngeliat anak kecil yang sedang mengikat tali sepatunya? mungkin saat itu dia terlihat sangat kesulitan, tapi dia sedang berusaha. Apa yang akan kamu lakukan? langsung membantu untuk mengikatkan? atau menawarkan bantuan?. Ya, sebagai orang dewasa mungkin kita akan merasa greget untuk membantu anak tersebut. Kita akan merasa ini adalah sikap hangat kita dengan tujuan memudahkan anak tersebut. Namun, mind boggling-nya menurut psikologi Alfred Adler itu adalah bentuk ikut campur kita dan melewati batas dari separation task (pemisahan tugas).
Menurut Adler jika kita melakukan itu kita akan menghalangi anak untuk tumbuh dan belajar menghadapi masalahnya sendiri. Kita yang dengan niat baik untuk membantunya akan membuatnya terbiasa dengan keadaan "dibantu". Sehingga jika ada masalah, anak tersebut akan menghindar dan lari dari masalah itu. Sampai disini apakah kalian setuju?.
Alfred Adler mengunggapkan bahwa masing-masing kita harus menaruh batasan antar masing-masing individu. Seorang ibu dengan anak, suami dan istri, sahabat dan hubungan interpersonal lainnya. Menurut Adler jika kita tidak membuat batasan tersebut kita diibaratkan membaca buku dengan jarak yang sangat dekat. Apakah kita bisa membaca buku itu? tentu saja tidak. Oleh karena itu, untuk mengenali seseorang kita perlu memberi jarak agar kita dapat benar-benar mengenali orang tersebut. Bagaimana jarak yang terbaik? itu bergantung bagaimana persetujuan pemisahan tugas antar individu. Pada saat yang sama jika kita tidak memiliki batasan barangkali sedikit akan membuat orang-orang yang terlalu dekat pada akhirnya bahkan tidak dapat berbicara satu sama lain. Tidak baik juga jika terlalu jauh, karena jika ingin membaca buku dari jarak yang jauh apakah dapat dibaca?.
Bukankah pemisahan tugas dengan memberi batasan itu akan membawa kita dalam sikap yang egois? tidak memperdulikan orang lain? dan membuat kita menjadi sangat individualisme?.
Jadi menurut Adler kita boleh ikut campur jika orang tersebut benar-benar memerlukannya atau meminta bantuan. Oleh karena itu jika seseorang menghadapi masalah dan menutup diri, kita tidak harus ikut campur dalam urusannya, namun sebaliknya jika kita peduli kita dapat menawarkan bantuan jika ia memerlukannya dan memberikan dia waktu. Dalam kasus anak tersebut, mungkin kita membantunya supaya waktunya bisa lebih cepat, tapi coba beri dia sedikit waktu lagi mungkin dia akan bisa. Apakah kita tak boleh memberikan bantuan? tentu saja boleh!. Kita dapat menawarkan bantuan "Sayang, kalo kamu butuh bantuan aku selalu ada untuk kamu" atau "Nak, kalau kamu perlu bantuan mama disini ya". Daripada "Sini biar mama yang ikatkan", dimana mengakibatkan anak tidak memiliki kesempatan untuk belajar karena sudah dibantu duluan, sehingga anak yang belum diajari untuk menghadapi tantangan akan menghindari tantangan tersebut. Perlu kita tekankan bahwa untuk membantu pun kita memerlukan persetujuan dari orang tersebut, karena jika orang tersebut tidak mengizinkan itu adalah bentuk intervensi (ikut campur).
Namun bagaimana kalau ada orang yang minta tolong? orangnya abis tabrakan dan tidak bisa bergerak. Apakah dalam keadaan genting tersebut kita harus meminta izin?. Mungkin kalau mau minta izin orang tersebut akan mati duluan :D. Jadi harus menyesuaikan juga, apalagi kalau orangnya yang meminta bantuan.
Ada sikap ikut campur yang lain dalam hidup kita. Misalnya kita menaruh kepercayaan kepada orang lain, menurut Adler itu adalah tugas kita. Jika orang lain tersebut menjaga amanahnya atau tidak, itu adalah masalahnya. Karena orang lain tidak harus memenuhi ekspektasi kita, begitu juga kita. Mengenai bagaimana tanggungjawabnya maka ia harus bertanggung jawab dan tergantung dengan hukuman (misalnya hukuman dalam negara).
Contoh lainnya, jika kamu tidak ingin tidak disukai itu adalah tugas kamu, tetapi apakah orang lain menyukai kamu atau tidak itu adalah tugas orang lain. Bahkan jika ada orang yang tidak menganggapmu baik, kamu tidak bisa ikut campur dalam hal itu. Ada sebuah peribahasa, kita hanya bisa membawa kuda ke air, apakah kuda itu akan minum atau tidak, itu adalah tugasnya. Kita tidak boleh memaksakan. Ini sama saja dengan ketika kita berlaku baik kepada seseorang, apakah orang itu akan berlaku baik kepada kita itu bukanlah tugas kita, tugas kita hanyalah berlaku baik.
Tapi rugi dong kalau kita baik ke orang tapi orangnya jahat sama kita?. Itu adalah salah satu bentuk ikut campur dalam urusan orang tersebut. Orang itu mau jahat atau tidak itu adalah tugasnya. Tapi yang perlu kita tekankan adalah apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai. Mungkin orang yang kita lakukan kebaikan padanya tak dapat membalas itu, tapi Allah tak pernah tidur, bisa jadi Allah mengirimkan orang lain untuk berlaku baik pada kita.
Kita hanya bisa melakukan hal semaksimal mungkin. Sekali lagi, kita bisa membawa seseorang untuk berjalan menuju ke air, tapi orang itu akan minum atau tidak itu adalah urusannya, yang penting kita sudah melakukan yang terbaik.
Semoga bermanfaat <3
I'm waiting for your feedback.
My sincere love
@intanbinthohir
Semangat kakk❤️🔥
BalasHapus