Kunci Bertahan dalam Kebingungan
Terjebak dalam simpang kehidupan yang padahal jalannya masih panjang. Merasa bingung karena tak tau harus berbuat apa. Terkadang kita sudah cukup berpikir sederhana dalam kehidupan, merasa yakin dengan diri sendiri dan belajar memahami bahwa semua berjalan dengan waktunya masing-masing. Sudah menerima kehidupan bahwa saat ini hanya perlu berusaha, berdoa dan berserah. Tapi terkadang, ketika diri ini sudah menerima dan berdamai, entah bagaimana ada saja tekanan yang datang dari luar. Membuat diri ini semakin bingung, takut, merasa bersalah, kehilangan arah dan bahkan kehilangan harapan.
---------------------------------------------------------------------------------------------------
Dulu saat pasukan Mongol menyerbu Baghdad ternyata Baghdad kalah telak, hancur porak poranda tak ada yang tersisa. Pasukan Mongol memiliki tentara yang sangat banyak, hati yang sangat keras bahkan ada mitos yang tersebar bahwa pasukan ini merupakan pasukan yang tak terkalahkan. Setelah ia mengalahkan Baghdad ia mencoba untuk mengalahkan Mesir. Karena kekuatan pasukan ini membuat Hulagu Khan menjadi sangat sombong dan menganggap remeh Mesir. Namun berkat izin Allah ternyata Mesir menang dan membuat sejarah pertama kekalahan pasukan Mongol. Jika ditelaah, perbedaan penguasa Baghdad dan Mesir pada saat itu salah satunya adalah karena harapan. Walau Saifudin Al-Qutuz seorang penguasa Mesir mengetahui bagaimana hebatnya pasukan ini, tapi ia tetap yakin kepada Allah bahwa tak ada sesuatu yang tidak mungkin. Nyalinya tidak ciut saat digertak oleh Hulagu Khan, ia membuat strategi dan terus berharap kepada Allah bahwa tidak ada yang tidak mungkin atas izin Allah.
Sun Tzu seorang Panglima Jenderal militer di China yang terkenal sebagai ahli strategi, ahli militer dan seorang filsuf yang strategi militernya sangat berpengaruh serta banyak diadaptasi oleh negara-negara lain berkata seperti ini:
"Apabila pasukan berada dalam keadaan terdesak dan musuh meminta kita untuk menyerah dan kita memiliki tiga kekuatan yaitu senjata, makanan dan harapan, maka yang harus kita serahkan pertama kali adalah senjata. Jika hanya memiliki dua hal yaitu makanan dan harapan maka yang harus kita serahkan adalah makanan"
Karena saat kita tak memiliki senjata, namun memiliki makanan dan harapan setidaknya kita masih dapat membuat senjata atau bahkan tenaga untuk melawan dengan tangan kosong. Apabila kita tak memiliki senjata dan makanan setidaknya kita masih memiliki harapan untuk terus melawan dan merasa yakin bahwa kita akan tetap bisa menang. Namun saat kita memiliki semuanya tapi tak memiliki harapan bukankah semuanya akan sia-sia?
Apabila pernah melihat seorang nenek tua yang sulit untuk berjalan namun tetap mampu melakukan sholat tarawih dengan jumlah rakaat yang banyak, bukankah ia berdiri karena iman? bukankah imannya memiliki harapan agar setidaknya dipandang oleh Allah, dicintai oleh Allah bahkan tak sedikit dari kita melakukannya karena harapan agar Allah jauhkan dari siksa api neraka.
Jika kita mencoba membandingkan dengan orang kaya yang memiliki harta yang kita idamkan itu bahagia? artis yang juga kaya dan sangat populer dalam pemahaman kita adalah seorang yang bahagia? namun mengapa orang bahagia seperti "dipikiran kita" masih ada yang bunuh diri? apakah karena masalah? apakah karena kesepian? jauh didalam sana ternyata karena tak memiliki harapan.
Orang yang sama-sama memiliki sakit yang parah, jika satunya bunuh diri dan satunya mencoba untuk menjadi sembuh bukankah karena harapan? orang yang sama-sama kesepian, jika satunya mencoba bunuh diri karena dia pikir kesepian ini akan lama dan sangat menyakitkan, namun yang satunya juga kesepian dalam waktu lama dengan rasa yang juga sangat menyakitkan tapi memiliki harapan suatu saat rasa sepi ini akan hilang bukankah akan berbeda?...
Sebuah penelitian yang meneliti "Bagaimana penyintas bunuh diri mengurungkan dirinya?" menunjukkan bahwa terdapat 4 hal yang dapat menangguhkan seseorang dari bunuh diri, salah satunya adalah harapan. Partisipan dalam penelitian menyatakan bahwa depresi yang ia alami sat ini pasti akan selesai walau ia tak tau kapan waktunya, namun ia percaya bahwa hidupnya lebih panjang dari rasa sakitnya. Partisipan lain juga menyatakan bahwa ketika ia mengingat cita-citanya membuat ia menangis karena akan sangat disayangkan jika ia mati begitu saja tanpa mimpi (Nurdiyanto, 2020).
Jika dengan harapan kita dapat melihat terang di dalam kegelapan, lantas bagaimana agar harapan itu bukan hanya menjadikan kita "bertahan lebih lama" dan menjadi harapan yang dikhayal-khayalkan? Berdasarkan seorang psikolog Charles Synder menyatakan bahwa harapan sejati memerlukan tiga komponen yaitu goals, agency dan pathways. Tidaklah cukup hanya menginginkan sesuatu terjadi, namun kita juga harus memiliki cara untuk mencapainya (Synder, 2022).
Jadi sebagai orang yang bingung dan berada di persimpangan atau ujung jalan yang buntu, apakah kita akan terdiam disana sambil menunggu keajaiban datang atau sebaiknya mencoba untuk mundur, mengevaluasi, mungkin ada jalan yang salah saat kita berjalan atau ternyata energi kita diperjalanan sedang habis, mungkin akan lebih baik jika kita beristirahat sebentar sambil mengisi energi. Tapi bagaimanapun keadaanmu saat ini,walau hanya dirimu sendiri dan Allah yang paham, tetaplah untuk berharap setidaknya untuk melihat bahwa masih ada cahaya dalam kegelapan itu.
referensi:
Nurdiyanto, F.A. (2020) ‘Masih Ada Harapan: Eksplorasi Pengalaman Pemuda Yang menangguhkan Bunuh Diri’, Persona:Jurnal Psikologi Indonesia, 9(2), pp. 369–384. doi:10.30996/persona.v9i2.3995.
Snyder, C. R. (2002). Hope Theory: Rainbows in the Mind. Psychological Inquiry, 13(4), 249–275. http://www.jstor.org/stable/1448867.
https://www.pkskotamalang.or.id/kolom/maka-terjadilah-apa-yang-terjadi.html
https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kpknl-parepare/baca-artikel/15716/Melawan-Debitur-Nakal-Dengan-Strategi-Perang-Sun-Tzu.html
Komentar
Posting Komentar