Kesepian : Menemukan Terang dalam Kegelapan
Kesepian : Menemukan Terang dalam Kegelapan
"Kesepian adalah salah satu hal yang terberat bagi seseorang, tak akan ada yang mengerti bahwa rasa sakit ini begitu dalam...."
Jika kamu merasa kesepian dan sedih karena kamu sadar bahwa tidak ada orang yang benar-benar ada disampingmu, tidak apa-apa jika ingin menangis, menangislah! Jangan terus meyakinkan dirimu bahwa kamu baik-baik saja. Kesepian bukanlah hal yang mudah, terimalah bahwa tidak ada orang disituasi ketika kamu berharap ada seseorang yang dapat diandalkan. Sadarlah bahwa yang dapat diandalkan hanyalah diri sendiri bukan orang lain.
"Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia" (Ali Bin Abi Thalib)
Berhenti untuk membayangkan bahwa jika saja ada seseorang yang dapat selalu ada untukku, maka aku akan baik-baik saja. Itu hanya imajinasimu dan kita tidak pernah tau apa yang sebenarnya akan terjadi, apakah akan sesuai dengan yang kita harapkan atau bahkan akan menjadi lebih buruk yang membuat rasa sepi ini akan semakin menyiksa. Kesepian itu menyakitkan yang akan sangat berpengaruh terhadap keadaan tubuh kita, kepuasan dari kehidupan, penyakit mental bahkan dapat menyebabkan kematian.
Kesepian itu bukanlah hal yang sepele, jika di negara maju seperti Jepang dengan fasilitas yang super lengkap dan kemudahan hidup yang lebih tinggi, mengapa masih memiliki tingkat kesepian yang begitu tinggi bahkan membawa pada tingkat kematian yang tinggi juga. Negara tersebut sadar bahwa hal ini bukanlah hal yang sederhana, sehingga pada tahun 2021 Jepang menunjuk Tetsushi Sakamoto untuk dijadikan menteri Urusan Kesepian dan Inggris pun telah memiliki menteri Urusan Kesepian pada tahun 2018. Bahkan Amerika menyebut adanya "epidemic loneliness" karena peningkatan kasus kesepian yang tak terduga setiap tahunnya, terutama setelah adanya covid-19.
Perlu kita sadari bahwa semua orang pasti pernah merasakan sepi. Tapi pertanyaannya bisakah kita mengolah rasa kesepian sebagai batu loncatan untuk kita menjadi lebih baik?...
Kita akan membayangkan seseorang yang sangat kesepian bernama A dan B. Mereka memiliki banyak teman, namun mereka sama-sama tak pandai bercerita mengenai keluh kesahnya kepada orang lain. Mereka sama-sama bijak dengan jalan mereka sendiri, namun yang membedakan A dan B adalah "acceptance" yaitu penerimaan. A menyadari dan menerima bahwa dia saat ini sedang kesepian, ia tak memiliki teman cerita, ia memiliki banyak sekali beban yang tak mampu dan tak tau dimana dapat ia diskusikan dan untuk meminta pertolongan. Permasalahan itu juga dialami oleh B, namun perbedaannya B ini tidak menerima dan menolak untuk sadar bahwa ia kesepian, yang ia tanamkan pada dirinya bahwa dia hanya pusing dan bingung karena sedang memiliki banyak beban.
Akhirnya A yang sadar dan menerima semua itu mencoba untuk mencari jalan keluar bagaimana rasa sepi ini bisa tersalurkan, A mencoba mencari di internet bagaimana caranya menghilangkan rasa sepi, ia memeluk dirinya sendiri, menulis diary, mencoba untuk bersosialisasi dengan keluarganya dan tidak terus menerus menyendiri di kamar. sedangkan B ia terus berusaha menyelesaikan masalah dan bebannya tanpa memperdulikan rasa sepi yang ada pada dirinya. Hingga akhirnya semua permasalahannya selesai, namun ada satu yang tetap tertinggal, walaupun semua beban itu sudah tidak ada, dirinya tetap merasa kesepian. Ia merasa bahwa dirinya selalu mendapatkan masalah, ia merasa menjadi orang yang paling menyedihkan, paling pandai bersandiwara padahal sangat memerlukan uluran tangan seseorang. Namun orang-orang yang ia harapkan tak kunjung datang, akhirnya ia mengasingkan diri karena merasa tak ada orang yang mencoba untuk mengerti.
Pikirannya tak berhenti bekerja untuk memikirkan bahwa dirinya tak memiliki siapa-siapa, "jika berbagi pada orang lain pun mereka tak ada yang peduli". lambat laun B merasa bahwa dirinya adalah seseorang yang 'tak diinginkan' dimuka bumi ini, ada dan tak ada dirinya semuanya sama saja. Hingga akhirnya B memutuskan untuk bunuh diri demi berharap atas kematiannya ada orang yang merasa sedih, menyesal, kecewa dan akhirnya paham bahwa hidup B ini sangat menyedihkan, B berharap ada seseorang yang mengatakan " andai saja aku ada menolong B", "kasihan si B, ia menghadapi hidup yang sangat berat" dan masih banyak perkataan yang diharapkan oleh B. Namun setelah kepergiannya orang biasa saja, menyalahkannya, merasa sedih, menyesal namun hal ini tidak berlangsung lama. Tetapi, B telah pergi dan pikirannya lah yang membunuhnya.
Berdasarkan cerita dari A dan B membuat kita paham bahwa ketika menghadapi berbagai macam permasalahan salah satunya seperti kesepian yang harus kita siapkan adalah hati yang lapang. Sehingga kita bisa menerima segalanya dengan lapang dada. Rasa ini akan membuat kita jauh lebih tenang dan mencoba untuk berserah diri kepada Allah. Rasa tenang ini memberikan kita luang untuk berpikir "bagaimana untuk keluar dari rasa sepi ini" dan memberikan kesadaran bahwa kita memang sendiri. Pada akhirnya rasa sepilah yang membuat kita menjadi lebih kuat dalam berpikir dan bertindak untuk menghadapi semua masalah, karena kita sadar bahwa kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri sehingga kita akan melakukan yang terbaik yang kita bisa.
Namun apakah sebenarnya kesepian itu? berdasarkan pendapat dari seorang pakar psikologi sosial dari Amerika pada sebuah ensiklopedia kesepian yang di publis pada tahun 1998 mengatakan bahwa kesepian adalah perasaan seseorang terhadap pengalamannya dalam hubungan sosial yang tidak memuaskan dan menyenangkan dibandingkan dengan hubungan sosial yang diharapkan. Misalnya, kita ingin bercerita dengan teman, ternyata dia sedang sibuk dan juga memiliki masalah sendiri, begitu juga dengan teman lainnya, akhirnya kita berpikir bahwa tak ada yang peduli dengan diri ini, mereka tak bisa diandalkan, padahal ekspektasi kita adalah mereka akan membantu dan menjadi garda terdepan untuk menolong kita, namun ekspektasi itu hanyalah sebatas ekspektasi, membuat kita kesal dan memutuskan untuk tidak bercerita apapun suatu saat kepada yang lainnya, kita mencoba untuk menarik diri dari hubungan sosial itu dan pada akhirnya kita akan merasa terisolasi, karena berpikir bahwa ternyata "aku sendiri".
Sehingga yang harus kita lakukan untuk mencegah rasa sepi ini adalah menurunkan ekspektasi kita terhadap orang lain. Jika ada orang yang mengatakan bahwa kita tidak harus terus menjadi pusat perhatian, seharusnya kita setuju. Karena orang lain terkadang juga merasa lelah dan mereka juga memiliki permasalahannya sendiri, bukan kita yang tak diinginkan di dunia ini, tapi ekspektasi dan harapan kita yang terus meletakkan kita pada sebuah titik yang dimana semua orang harus peduli. Kita harus membiasakan diri untuk tidak menjadi pusat perhatian orang lain, supaya kita sadar dan paham bahwa manusia bukanlah tempat untuk mengggantungkan diri.
Kesepian itu memang menyakitkan, tapi yang dapat menyembuhkannya bukanlah orang lain....
Bersandarlah kepada Allah yang tak pernah lari dari kita, letakkanlah semua harapan yang ada kepada-Nya bukan kepada seseorang yang bahkan tak bisa menjamin keadaan dirinya sendiri. Terkadang kita harus lebih dekat kepada Allah, "tapi saya setiap hari sholat kok, saya dzikir, baca Qur'an tetep aja ngerasain kesepian". Mencoba untuk lebih dekat bukan hanya berarti selama ini kita jauh bukan? tapi ada hal yang harus kita evaluasi.
Semangat, bersedih boleh tapi jangan berlebihan, karena yang kesepian didunia ini bukan cuma kamu. Pada penelitian Into The Light (komunitas pencegah bunuh diri di Indonesia) mencatat sebanyak 98% dari 5.211 orang partisipan merasa kesepian. Kamu tidak sendiri bukan? Pada akhirnya pikiran kita lah yang menentukannya, mau terus kesepian atau menjadikan kesepian ini bahan evaluasi dan batu loncatan untuk menjadi lebih baik.
Please give me feedback and keep touch on my Instagram & Tiktok : intanbinthohir

Komentar
Posting Komentar